TOKOH

Biografi George Mallory, Sang Kontroversial

Menjelajahi perjalanan hidup legendaries memang tidak akan membosankan. Kali ini kita coba selami biografi George Mallory yang hilang di Himalaya. Dan baru ditemukan mayatnya setelah puluhan tahun dari waktu kejadian.

Bagi para pendaki gunung. Mallory tentu dikenal dengan gaya komentarnya yang seenaknya ‘Because it,s there ‘ merupakan komentar yang selalu muncul menanggapi banjirnya pertanyaan terkait motivasinya berpetualang.

Salah satu yang menarik dan kontroversi hingga saat ini adalah sosoknya yang hilang di gunung tertinggi di dunia ketika belum ada manusia yang telah menginjakan kaki dipuncaknya. Hilangnya mereka menimbulkan pertanyaan besar apakah ia orang pertama yang telah mencapai puncak Everest atau bukan.

https://ngopikita.com/tokoh/biografi-sir-edmund-hillary-pendaki-pertama-taklukan-puncak-everest
https://ngopikita.com/tokoh/biografi

Mallory dinyatakan hilang bersama sahabatnya Andrew Irvine pada tahun 1924. Sebelumnya ia telah mengikuti dua kali ekspedisi ke Everest dan berhasil memecahkan rekor pendakian tertinggi pada masanya.

Tak hanya itu, Mallory juga mendeskripsikan kisah romantic petualangan. Anak seorang pendeta yang memiliki tubuh atletis, kemampuan pendakian yang mumpuni. Ia lahir pada 18 Juni 1886 dan menikah dengan Ruth Turner pada tahun 1914.

Guru miskin ini memiliki tiga orang anak yang berada di persimpangan antara keluarga dan petualangan. Hingga akhirnya ia mengambil langkah untuk menjadi petualang dan menjadi pahlawan pada generasinya hingga saat ini.

Keluar sebagai guru ia pun mengikuti ekspedisi menaklukan atap dunia tersebut pada tahun 1921. Beberapa capaian kemajuan dari tim Mallory pada tahun 1921 dan 1922 menumbuhkan keyakinan pada timnya untuk menaklukan Himalaya pada tahun 1924.

Ekspedisi 1921 menghasilkan jalur untuk mencapai North Col, celah antara Everest dan Changtse yang membuka arah ke punggungan utara untuk mencapai piramida puncak. Jalur ke kemah induk dan masuk East Rongbuk Glacier ditemukan tim ini, dan bahkan mereka mencoba mendaki ke North Col dan berhasil hingga lebih tinggi dari 6.700 meter.

Mallory dalam foto berwarna

Pada perjalanan selanjutnya pada tahun 1922, ia memecahkan rekor ketinggian bersama Geoffrey Bruce, George Finch dengan mencapai ketinggian 8.320 mdpl. Kali itu Bruce dan Finch menggunakan tabung oksigen untuk pertama kalinya di Everest.

Hasilnya dengan bantuan oksigen maka dapat membantu manusia untuk mencapai ketinggian diatas  7000  mdpl. Meski sebelumnya Mallory menganggap menggunakan tabung oksigen sebagai sesuatu yang tidak sportif.

Tetapi akhirnya ia menyadari dengan menggunakan tabung oksigen maka pendaki dapat bergerak lebih cepat. Jika sebelumnya hanya mampu kecepatan 120 meter per jam, namun semenjak menggunakan tabung oksigen meningkat menjadi 155 meter per jam.

Kemajuan yang dibawa oleh George Finch sangat membantu teknologi pendakian masa sekaran. Jika sebelumnya Finch dan tim membeli wol berlapis-lapis. Tapi ia membuat terobosan dengan bahan balon. Jaket di isi dengan bulu angsa dan disebut Down Jacket – Sekarang menjadi jaket standar ke Everest.

Model pakaian seperti Finch memang tidak di adopsi oleh para pendaki Everest pada masa itu. Dan dari pakaian tua tersebut menjadi pembeda artefak peninggalan ekspedisi pada tahun 1924. Pakaian wol berlapis-lapis ini pun mendapat komentar dari sastrawan terkenal Inggris George Bernand Shaw yang menganggap pakaian tersebut pakaian piknik di Connemara dan terjebak salju.

Perjalanan 1924 itu juga membuat terobosan baru guna menaklukan puncak Everest dan menjadi kunci keberhasilan ekspedisi tahun 1953.  Mallory yang menjadi ketua memiliki ide untuk trik pendakian. Salah satunya membangun deretan perkemahan di sepanjang rute pendakian dengan kemah tertinggi  yang paling sedikit diisi perlengkapan.

Himalayan Tactic ini membentuk piramida tenda yang dibangun oleh pendaki dan sherpa yang membantu mereka. Terobosan ini diunngkapkan Mallory kepada Edward Norton pada kemah lembah glister Rongbuk.

Kisah hidupnya pun mulai terbongkar ketika Firstbook melaporkan Mallory yang setelah ekspedisi keduanya tahun 1922 kehabisan uang dan tidak memiliki pekerjaan. Ia pun berusaha menggelar seminar pendakian ke Amerika.

Jenasah Mallory ditemukan pada tahun 1999

Tahun 1923 ia hidup di Washington DC, Chicago, Philadelphia, dan Boston. Perjalanan panjang ini ternyata tidak memberikan keuntungan keuangan baginya. Firstbook juga produser film documenter yang dibuat dalam rangka ekspedisi musim semi tahun 1999 ke sisi utara Everest untuk mengungkap jenasah dan kamera kedua pendaki tersebut.

Aksi arkeologi di ketinggian ini diharapkan sekaligus bisa mengungkapkan pertanyaan abadi, apakah Mallory dan Irvine meninggal setelah mencapai puncak Everest?

Deskripsi Firstbook ini cukup ringkas dan lengkap terkait hilang dan pencarian jenasah Mallory dan Irvine. Disana tertulis sepuluh bab dengan dua bab diantaranya menceritakan ekspedisi mereka pada Maret dan Mei tahun 1999.

Selebihnya mengenai sejarah Everest mulai dari pembentukan geologi hingga pendakian-pendakian kesana sampai hilangnya Mallory. Setiap bab memiliki referensi yang panjang menunjukan bahwa tulisan ini telah diteliti dengan cermat.

Tak hanya itu, buku ini juga mengungkap terkait pandangan pendaki pada masa itu terkait kebijakan pendakian yangn terjadi hingga peristiwa hilangnya Mallory dan Irvine. Bahkan gossip homoseksual pun sempat berhembus.

Sementara itu, Odell menjadi pendukung pendakian kedua orang hilang ini. Ia juga menjadi orang terakhir melihat mereka yang menurutnya di ketinggian 8.610 meter. Odell yakin bahwa keduanya sempat mencapai puncak.

Tak hanya itu,buku itu juga dilengkapi dengan foto dari masa lalu ekspedisi ke Everest. Beberapa foto terdapat gambar ekspedisi terbaru, termasuk jenasah Mallory dan artefak yang ditemukan ditubuhnya – label baju G. Mallory, kompas, kacamata glister, dan surat-surat dari Inggris.

Penemuan jenasah Mallory dan Irvine tak lepas dari jejak yang diungkapkan Ryoten Yashiimoro Hasegawa anggota ekspedisi Jepang tahun 1979 yang berbincang dengan Wang Hong Bao anggota ekspedisi China 1975.

Jalur Second Step menjadi lokasi penemuan Mallory

Wang menceritakan tahun 1975 ia menemukan jenasah orang Inggris beberapa meter dari tenda mereka pada ketinggian 8.150 mdpl. Sayangnya esok harinya longsor salju menimpa enam orang anggota ekspedisi gabungan China-Jepang.

Hingga tahun 1999 dibawah pimpinan pedaki Eric Simonson berupaya menemukan kembali lokasi kemah tim China 1975 tersebut. Kemudian ia menyelusuri jejak jenasah pendaki Inggris sebelum PD II. Hingga akhirnya Conrad Anker menemukan jenasah dan meyakini tanda-tanda keberhasilan Mallory sampai di puncak Everest.

Untuk menuju puncak, dari kemah terakhir akan menghadapi dinding vertical yang dikenal dengan first step, second step, dan third step. Sementara itu, menurut Reinhold Messner setelah pendakian solo tahun 1981 lewat sisi utara Everest yakin jika Mallory tidak akan mampu melampau second step.

Ia meyakini Mallory bukan yang pertama di puncak Everest. Memanjat second step dengan free climbing dan tanpa oksigen yang dilakukan oleh Conrad Anker. Setelah ia berhasil memanjat tebing di ketinggian 8.600 meter ini Anker dan kawan-kawan yakin bahwa Mallory bisa saja sampai di puncak.

Perawakan Mallory yang atletis dan menunjukan seorang pemanjat lebih meyakinkan mereka. Hal itu dikuatkan posisi jenasah, sisa tali tubuh yang putus memperlihatkan bahwa Mallory terjatuh ketika turun.

Firstbook pun meyakini kalau Mallory berhasil mencapai puncak Everest, sebelum ia hilang dan meninggal. Sedangkan bagi yang tidak yakin terdapat petunjuk pada 8 Juni 1924 ia tidak dalam kondisi fit karena telah lama berada di ketinggian.

Mallory meninggalkan lenteranya dalam tenda (ditemukan pendaki tahun 1933). Analisanya tidak mungkin ia berangkat pagi ketika matahari belum bersinar. Artinya waktu pendakian yang dimiliki sangat ringkas tergantung matahari. Sedangkan tabung oksigen ditemukan Eric Simonson di dekat First step pada tahun 1991.

Kontroversi inilah yang belum terjawab, karena banyaknya asumsi masalah keluarga yang dialami oleh Mallory, atau Firstbook hanya mengemasnya menjadi cerita yang menarik.

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda