TOKOH

Anatoli Boukreev, Kisah Dramatis Penyelamatan Tiga Nyawa di Everest

Anatoli Boukreev, pendaki asal Rusia ini menjadi  pendaki legendaris, karena aksi nekatnya menyelamatkan tiga pendaki di ketinggian 8000 mdpl, ditengah kegelapan malam dan terjangan badai.

Kisah tragedi 1996 ini membuat dirinya menjadi pendaki nekat yang peduli terhadap keselamatan pendaki lainnya, dan menjadi inspirasi film Everest 2015 silam. Keberaniannya menembus badai seorang diri berhasil menyelamatkan tiga nyawa yang terjebak di ketinggian puncak Everest.

Kisah mengharukan ini terjadi pada tahun 1996, dimana badai salju menerjang Everest. Hal ini menyebabkan banyak pendaki terjebak dalam zona kematian ketika berada di ketinggian 8000 mdpl dengan  kandungan oksigen yang sangat tipis.

Sejumlah anggota ekspedisi terjebak ketika mereka turun. Tantangan oksigen yang tipis tentu menyebabkan otak menjadi bingung dan kesulitan untuk bergerak. Wajar saja karena seluruh energi biasanya di fokuskan untuk mendaki, sehingga proses turun menjadi sulit.

Dalam buku Boukreev The Climb, saat itu mereka yang berada di camp peristirahatan 7.900 mdpl tak siap dengan misi penyelamatan karena jarak pandang yang buruk. Bahkan semua pendaki terlalu lelah, dan akan berakibat fatal jika mereka keluar melakukan penyelamatan.

Namun, seorang pemandu gunung asal Rusia untuk ekspedisi Amerika, Mountain Mandes yang bernama  Anatoli Boukreev berhasil menyelamatkan tiga nyawa malam itu ditengah kondisi badai dan tipisnya oksigen.

Pendaki berpengalaman yang terlatih di jaman Soviet ini merupakan salah satu dari dua pemandu yang disewa oleh pendaki asal AS, Scott Fischer untuk ekspedisi komersial pertamanya pada tahun 1996 silam.

“Akan ada Anatoli (Boukreev) bersama kita — tak ada pendaki yang lebih berpengalaman dan kuat daripada dia. Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi?” demikian kata Fischer ketika Boukreev bergabung dengan tim.

Saat itu, tim merupakan salah satu dari beberapa ekspedisi yang ingin menggapai puncak Everest. Perjalanan diawali dengan cuaca yang sangat baik dan tidak menunjukan adanya badai. Boukreev berjalan lebih awal dan mencapai puncak pada pukul 13.00.

Ia pun menunggu timnya, tapi sayangnya hingga pukul 14.30 hanya ada dua dari delapan yang berhasil sampai puncak.

Rasa khawatir terhadap timnya, ia pun memutuskan turun memastikan masalah apa yang ada dibawah. Saat tak jauh dari puncak ia pun bertemu dengan Rob Hall (kepala ekspedisi Selandia Baru), dan melewati empat kliennya dimana ia melihat Scott Fischer terlihat baik-baik.

“Di atas Pijakan Hillary (batu penghalang yang tak jauh di bawah puncak) saya bertemu dan bicara dengan Scott Fischer, yang kelelahan, tapi dia bilang ia hanya sedikit tak enak badan. Tak ada tanda-tanda kesulitan meski saya mulai menduga bahwa pasokan oksigennya (yang digunakan untuk menghindari atau mengurangi efek hypoxia akut di dataran tinggi) sudah menipis,” kenang Boukreev.

Ketika itu, Boukreev sempat berkata kepada Scott bahwa pendakian lambat, dan khawatir ketika turun mereka akan kehabisan oksigen sebelum sampai pada camp IV -7900 mdpl. Ia pun menjelaskan dirinya akan turun ke camp IV untuk menghangatkan diri dan mendapatkan pasokan minuman hangat dan oksigen.

Rencana yang disusun tersebut pun disetujui oleh Scott dan Rob Hall yang berada di depannya. Boukreev pun kembali ke pos peristirahatan untuk memulihkan tenaga sambil menunggu tim yang lainnya.

Sayangnya hingga pukul 18.00 sore tak ada satu pun yang kembali ke camp IV. Ia pun khawatir karena tidak ada jaringan radio. Ia pun membawa pasokan logistik dan oksigen untuk mencari para pendaki, tetapi menembus badai bukan pekerjaan yang mudah, hingga ia harus balik kanan.

Sekitar pukul 21.00 pendaki bernama Martin Adams tiba dalam kondisi lemah. Kemudian tiga anggota lainnya, pemandu Neal Beidleman, Lene Gammelgaards dan Klev Schoening. Mereka pun menjelaskan ada lima pendaki yang terjebak tak jauh dari pos.

Tiga diantaranya merupakan pendaki kliennya dari Mountain Madness (Charlotte Fox, Tim Madsen, dan Sandy Pittman). Lainnya adalah tim Selandia Baru Yasuko Namba dan Beck Weaters. Sedangkan Lopsang Jangbu, Sherpa dan pemandu lokal mengabarkan bahwa Fischer terjebak di ketinggian 8500 mdpl.

Enam orang terjebak badai dan hanya Boukreev yang siap menolong. Bermodalkan teh dan oksigen ia menembus badai dan membawa tiga pendaki bolak-balik menembus badai. Yang pertama ia membawa Sandy Pittman, kemudian Charlotte Fox, dan Tim Madsen.

Ditengah ketidak-berdayaannya ia terus memohon para sherpa dan anggota ekspedisi lainya membantu menolong  Yasujo Namba sedangkan Weaters tidak ada dilokasi, tapi permohonannya sia-sia saat itu tidak ada yang bersedia membantunya.

Anatoli Boukreev paling tinggi

Dalam bukunya, Gammelgaardn ingin melihat Boukreev yang telah kembali bersama Fox dan Madsen. Pagi pukul 05.00 yang telah terang dirinya melihat Boukreev tengah duduk tanpa sepatah kata pun. Kelelahan dan tak ada energi yang tersisa. Dan tidak mampu menyelamatkan 3 pendaki yang tersisa.

Boukreev pun tak berdaya untuk menyelamatkan Fischer. Hari itu para Sherpa mencarinya, tapi terlambat, Boukreev pun tak percaya dan pergi sendir untuk mencarinya. Diperjalanan mendaki ia bertemu dengan Beck Weaters yang berhasil menemukan pos peristirahatan.

Pada pukul 19.05 ia berhasil menemukan jenasah Fischer. Ia pun membuat stupa di pinggir desa Dughla, Rute Everest base camp Nepal untuk mengenangnya. Kisah dramatis yang penuh rasa haru dan kepedulian.

Dalam film Everest- 2015, kita akan teringat tokoh pemandu Rusia yang tegas dan kerap minum dan main akordeon. Para pembuat film melepaskan kefanatikannya terkait orang Rusia, mereka menggambarkan kepahlawanan Boukreev dalam misi penyelamatan nekatnya.

Kontorversi datang dari seorang jurnalis Amerika dan anggota ekspedisi Robb Hall yang berusaha menyalahkan Boukreev karena meninggalkan kliennya dan tak mengunakan oksigen yang digunakan banyak orang untuk menghindari efek hypoxia di dataran tinggi.

Boukreev merupakan pendaki Everest yang tidak menggunakan tabung oksigen. Hal tersebut dilakukan karena dapat menghindari penurunan jumlah oksigen secara tiba-tiba ketika oksigen di tabung habis. Pendaki berpengalaman 25 tahun ini pun mengakui hanya sekali menggunakan oksigen tambahan saat mendaki gunung di ketinggian 8000 mdpl.

Walau mendapat serangan Krakauer, tetapi keberanian Boukreev tetap diakui pendaki lainnya. Bahkan pendaki lain dan jurnalis AS lainnya menulis dalam Wall Street Journal ia mengatakan ketika Krakauer tidur dan tak ada pemandu,klien, atau sherpa lain yang berani dan cukup kuat untuk keluar.

Boukreev telah bolak-balik menembus badai dikegelapan malam diatas ketinggian 8000 mdpl, untuk menyelamatkan tiga pendaki yang hampir mati. Hingga Krakauer memberikan pengangkuan pada Boukreev, ia bisa melukiskan sebuah penyelamatan terhebat dalam sejarah pendakian yang dilakukan sendiri dan tanpa oksigen.

Boukreev pun menjelaskan posisinya. Pengalaman mendaki Everest dua kali membuat ia memprediksi masalah dengan para klien di dekat camp. Mencatat ada lima pemandu lainya di puncak dan menempatkan dirinya untuk beristirahat dan cukup air guna merespon situasi darurat.

Scott Fischer tak bisa diselamatkan Boukreev

Bahkan klub pendaki American Alpine Club memberikan penghargaan David Sowles Awards atas Boukreev sebagai penghargaan tertinggi untuk keberanian, untuk menyelamatkan tiga pendaki Amerika dalam kondisi hidup.

Beberapa pendaki pun menganalisis dan menyadari jika Boukreev tidak turun ke camp IV sebelum cuaca memburuk, maka ia tak akan mampu membantu, dan ikut tewas dalam peristiwa tersebut. Kelelahan dan tanpa oksigen tidak akan bisa membuat dirinya menyelamatkan pendaki lainnya.

Anatoli Boukreev meninggal pada usia 39. Pada Desember 1997, ia dan kawannya Dimitry Sobolev tewas akibat longsoran salju di sisi selatan Gunung Annapurna di Nepal. Jenazah mereka tak pernah ditemukan.

Namun dibalik itu semua, ia memiliki kutipan yang sangat menginspirasi “Sejujurnya, saya tak pernah ingat saya pernah merasa ketakutan di pegunungan. Sebaliknya, saya merasa seperti seekor burung yang melebarkan sayapnya sebelum terbang. Saya merasakan kebebasan di ketinggian. Segera setelah saya turun, kehidupan menjadi hambar, saya merasa beban dunia berada di pundak saya.”

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda