SKETSA

Stop Fitnah Jari Mu, Tapi Pasang Mata Mu

Stop jari jemari dari perbuatan menyebarkan informasi yang kita sendiri tak mengetahui kebenarannya dengan pasti, merupakan kedewasaan masyarakat Indonesia dalam menyikapi rekapitulasi suara Pilpres dan Pileg sekarang ini. Tapi pasang Mata lebar-lebar untuk mengkoreksi bersama sebuah kekeliruan.

Perhelatan akbar pilpres dan pileg sebelumnya telah membuat kehidupan sosial masyarakat Indonesia kurang harmonis, meski hal tersebut dibuktikan hanya pada tataran dunia maya saja. Karena sejatinya manusia Indonesia terbangun dari sebuah perbedaan.

Namun, dalam waktu satu hari setelah pencoblosan dan penghitungan suara, kembali media sosial dihiasi dengan tebaran informasi yang tidak diketahui kebenarannya. Bisa dikatakan antara kebenaran dan fitnah telah tercampur terkait dengan narasi kecurangan KPU.

Tidak akan membahas siapa yang benar atau salah terkait dengan kecurangan Penyelenggara pemilu, tapi yang pasti untuk diketahui masyarakat bahwa penyelenggara pemilu tingkat paling bawah adalah KPPS atau Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara.

KPPS bekerja dengan anggota 7 orang dengan salah satu sebagai ketuanya, ditambah dengan pengamanan 2 orang.  Orang yang bertugas di KPPS ini merupakan warga disekitar lingkungan mereka tinggal dan dipastikan saling kenal sebagai warga yang bermukim disebuah wilayah.

Ditingkat KPPS ini screaning awal ada tidaknya kecurangan, ketika ada surat tercoblos atau risak maka mereka akan mengetahui bersama saksi, panwas, pemantau, sehingga dipisahkan dan dimasukan satu kantong khusus.

Dipastikan sistem yang dibangun mampu menjamin tidak ada kecurangan, karena semua suara diketahui oleh saksi dari partai pendukung maupun oposisi, Panwas, dll. Bahkan mereka mendapat hak untuk menentukan syah atau tidaknya sebuah suara. Diberikan kebebasan untuk merekam video, foto, mendata, bahkan menandatangani setiap dokumen yang ada.

Pekerjaan KPPS bisa dikatakan lebih dari 24 jam, dari persiapan hingga hari H, sementara petugas ditingkatan Kelurahan mungkin lebih panjang lagi, mereka masih terus bekerja mengumpulkan kotak suara, dan merekapitulasi seluruh suara yang masuk.

Begitu juga dengan tingkat kecamatan, para saksi dan elemen pengawas terus bekerja. Mereka memasang mata untuk mengoreksi kesalahan yang disebabkan faktor manusia. Namun sayangnya, di media sosial kerja keras para penyelenggara ini mendapat tudingan telah melakukan kecurangan.

Cukup awasi tapi jangan dilegitimasi kerja keras para penyelenggara pemilu ini. Mereka yang bekerja keras untuk mendapatkan pemilu yang jujur dan adil, berbuah informasi tundingan dan doa-doa penuh azab, sementara mereka tertidur pulas dan tidak mengetahui kerja keras dan mekanisme yang dijalani.

Sehingga tak heran dalam agama Islam menyebarkan informasi bohong atau fitnah merupakan perbuatan yang keji. Bahkan penyebaran fitnah tersebut dikisahkan dalam sebaran bulu kemoceng yang terbang dengan cepat dan menyebar entah kemana.

penghitungan suara disaksikan masyarakat, saksi, panwas, dan berbagai elemen

Kisah ini terjadi pada murid yang suka memfirnah gurunya dan ingin meminta menebus kesalahannya. Hingga ia ditugaskan untuk mencabut bulu kemoceng setiap dirinya memfitnah sang guru, dari rumahnya hingga pondok guru.

Setelah sang murid sampai pada pondok sang guru, hanya tinggal batang kemocengnya saja yang tersisa. Untuk mengambil pelajaran tersebut, sang guru meminta kepada muridnya untuk mengambil kembali bulu-bulu ayam tersebut kembali, pada jalan sama ketika sang murid mencabut bulu tersebut.

Hasilnya ketika sang murid menghadap sang guru pada esok harinya, ia hanya dapat mengumpulkan lima helai bulu kemoceng tersebut, sedangkan sisa hilang tersebar entah kemana. Nasehat sang guru kepada sang murid, kata-kata fitnah tersebut ibarat bulu kemoceng yang dicabut dan menyebar tertiup angin ke segala penjuru arah, dan sangat sulit ditemukan kembali.

Mengambil kisah tersebut, tentunya kita dapat menarik persamaan bagi mereka yang suka membuat tulisan yang tidak berdasarkan kebenaran, memanipulasi, kuranngnya pengetahuan, sehingga di share hingga ratusan atau ribuan kali, dan terus menyebar hingga jutaan kali.

Begitu juga mereka yang menyebarkan informasi yang tidak diketahui kebenaran, mereka pun masuk dalam rangkaian sebuah penyebaran fitnah, sehingga bukan mulut saja yang dipertanggung-jawabkan, tetapi jari-jemari pun kini ikut memikul tanggung jawab dari sebuah fitnah yang kita share.

So, bijaksanalah  dalam bersosmed, lebih baik menjaga jari- jemari dan pasang mata tajam-tajam mengawasi rekapitulasi suara, hingga mendapatkan sebuah kebenaran.

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda