AgamaSKETSA

Ramadhan: Rintikan Hujan Yang Menyirami Bara Kebencian

Tak berjarak lagi umat Islam bersapa Ramadhan – Bulan yang penuh kasih sayang sang pencipta kepada mahluk ciptaannya. Jika bentangan waktu dipenuhi astmofir kemarahan dan kebencian, tentunya Ramadhan akan menjelma rintikan hujan yang membasahi bara kebencian menjadi pelukan dan saling memaafkan dimasyarakat.

Harmonisasi masyarakat terkoyak, informasi dari negeri antah berantah berseliweran saling caci, saling fitnah, dan saling hujat, sosial media bukan lagi sebagai pertemuan para sahabat, kini menjadi ajang debat meski pengetahuan hanya sekelebat, berjabat pun semakin jauh dari kata persahabatan.

Memaafkan dan meminta maaf menjadi esensi seutuhnya dari Ramadhan. Tak akan menang pertarungan melawan hawa nafsu, sementara kebencian dan dendam masih bersemayam dengan tenang dalam hati. Maaf merupakan tisu yang mampu membersihkan cermin-cermin didalam hati  dari kerak kebencian terhadap seseorang, debu- debu dalam pergunjingan, dan jelaga kesombongan merasa telah memiliki kebenaran.

Hati yang telah memaafkan tentu akan mudah menyerap rahmat Illahi, kemudian memantulkan cahaya-cahaya Tuhan kepada orang lain yang dapat dilihat oleh orang sekitar kita dengan istilah perilaku. Sehingga tak heran di Nusantara ada tradisi meminta maaf menjelang bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan merupakan bulan suci maka tradisi bersuci pun dikenal di Indonesia. Bukan saja bersuci secara fisik degan membersihkan rumah, perkarangan, rumah ibadah, tetapi juga melakukan bersuci secara bathin dengan terjemahan untuk saling memaafkan kepada keluarga, suami istri, maupun orang-orang disekitar kita. Kebiasaan baik ini tentunya sesuai dengan ajaran Islam yang termuat dalam surat Al-Baqarah ayat 178:

‘Barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan caa yang baik, hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang member maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat perih’.

Atau dalam surat Al-Imran ayat 134 yang berbunyi: “Dan orang-orang yang suka memaafkan kepada orang banyak dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Atau surat As-Syura ayat 43 yang berbunyi : “Dan Niscayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan sesungguhnya hal yang demikian termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati”.

Masih banyak lagi ayat-ayat suci yang mengajarkan manusia untuk saling memaafkan. Memang tak dipungkiri terdapat beberapa kelompok yang menganggap bidáh dalam tradisi meminta maaf menjelang bulan Ramadhan. Karena suatu kebiasaan yang baik dan tidak menambahkan pada tatanan ibadah madhoh atau ibadah murni, tidak masuk dalam kriteria bidáh.

Jika menambahkan dalam ibadah sholat memang dilarang, namun kebiasaan baik dengan meminta maaf tentunya menjadi kewajiban dalam menjalankan perintah Allah. Tak layak memvonis bidáh untuk kebiasaan yang banyak diperintahkan dalam kitab suci.

Ramadhan juga melukiskan bagaimana kasih sayang Allah swt kepada mahluknya yang tak bertepi. Fadilah Ramadhan pun terbagi tiga, 10 hari yang penuh rahmat, 10 hari penuh magfiroh, dan 10 hari terakhir terhindar dari siksa neraka.

Jika pertengahan Ramadhan saja Allah memberikan maafnya atas dosa-dosa yang dilakukan sepanjang tahun kepada hambanya, lantas kekuasaan apa yang dimiliki manusia sampai tidak memaafkan sesama mahluk ciptaannya. Tentunya jalan akan terasa lancar ketika menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih, penuh rasa saling memaafkan sehingga tidak ada lagi permusuhan.

Jika hati belum mampu berdamai dari kebencian dan dendam antara pendukung dan pembenci Ahok, jika masih terbesit kebencian atas nama agama, maka bukan agama yang sedang dibelanya, tetapi nafsu setan yang sedang dipeliharanya. Cuplikan ayat-ayat suci yang hanya dilampiaskan untuk memuaskan kebenciannya, maka dipastikan setan telah cawe-cawe melakukan tipu daya.

Hakikat manusia hidup didunia ini berasal dari kesalahan dan terkatub dalam surat Alfatiha. Surat yang selalu dibawakan dalam berbagai hajat dan acara, menjadi sari pati seluruh surat yang ada dikitab suci, bacaan yang wajib dalam setiap rokaat sholat tersebut memperlihatkan bahwa manusia banyak berbuat salah, sehingga selalu meminta petunjuk jalan yang lurus.

Alfatiha pun memiliki mahkota yang tak kalah dashyat, kalimat Basmalah (Denga Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang) menjadi inti dari semua kehidupan didunia ini. Tentunya jika cahaya kasih sayang Tuhan bersemayam dikalbu manusia, pasti pintu saling memaafkan selalu terpancar dalam perilakunya.

Ramadhan ini harus menjadi hujan yang menyimari khatulistiwa yang kering akibat bara dendam yang menghanguskan hijaunya Nusantara yang penuh toleransi. Garuda pun dengan bangga mengusung Bhineka Tunggal Ika-nya.

 

 

 

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda