PuisiSKETSA

Kutemukan Engkau Di Lempuyangan

Langkahku mengayun pada sebuah pengembaraan

Menuju atap-atap langit

Melihat karya tangan para dewa

Raih ketenangan jiwa dari gelora nafsu manusua

 

Langkahku mengayun pada sebuah stasiun

Hiruk pikuk manusia berjejal pada keterpaksaan

Hingga aku tatap engkau disana

Dikejauhan antara ribuan manusia

Pancaran pesonamu menarik bola mata ini

Agar tak hilang dalam bingkai memori

 

Langkahku mengayun pada sebuah ruang

Dimana aku temukan engkau disisi jendala

Tak berkata, tak bersuara, apalagi bergerak

Hanya sesekali aku menatapmu, merekam semua keindahan

Detik demi detik aku isi otak ini dengan wajahmu

Jikalau engkau pergi tanpa mengenalku

 

Langkahku mengayun pada sebuah jalan

Aku lihat engkau di sebuah warung

Disebuah kota yang kita hanya jadi pendatang

Dirimu rebahkan penat dengan secangkir teh di pagi hari

Asyik  tertawa menikmati hari bersama sahabat

 

Langkahku terhenti pada warung di pinggir Lempuyangan

Senyummu adalah gerbang untuk pelabuhan jiwaku

Ajakanmu adalah ijin untuk sandarkan kesepianku

Tuturmu adalah sinyal untuk hempaskan hasratku

Tawamu adalah harapan untuk menyelami relung hatimu

 

Langkahku terhenti

Tapi tidak untuk hasrat kita

Sinar matamu menghujam jantung kacaukan detak jantung

Gerak bibirmu getarkan seluruh engsel persedian raga ini

Aku tatap kamu, dan kau tatap balik

Bertatapan wujud dialog kita

Erlangga, 20 Januari 2007

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi

4 Komentar

Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda