AgamaSKETSA

Cinta Dan Kerinduan Kisah Sariy as Saqathy r.a.  

Pada suatu malam aku tak dapat tidur sedikit pun juga, padahal aku baru saja memberati diriku dengan mengerjakan sembahyang tahajjud serta memperbanyak tafakkur. Setelah selesai bersembahyang Subuh keluarlah aku dari rumah, tanpa maksud dan tujuan tertentu, seraya berkata dalam dalam hati.

“Alangkah baiknya aku menemui juru nasehat atau para pengajar, kalau-kalau hatiku bisa mendapat ketenangan dengan nasehat dan anjurannya. Akan tetapi setelah aku sampai kesana, tiadalah yang kudapatkan kecuali kegelisahan, keresahan dan kekerasan hati yang semakin bertambah.

Kata hatiku sekali lagi : “Cobalah aku pergi kerumah penjara untuk mengambil i’tibar dengan orang-orang hukuman.” Demi setelah aku sampai pula kesana, masih juga hatiku seperti biasa, tiada berubah sedikit juga.

Kemudian itu hatiku berkata lagi : “Lebih baik aku pergi kerumah sakit jiwa saja, karena disana aku dapat mengambil i’tibar dengan orang-orang yang sedang mengalami cobaan. Demi setelah aku sampai di rumah sakit itu, tiba-tiba hatiku menjadi sadar dan teruslah aku masuk kedalam.

Setibanya didalam terlihatlah olehku seorang wanita Jariyah (Hamba sahaya) yang sedang duduk diatas sebuah ranjang. Wanita itu amatlah cantiknya, berpakaian indah dan daripadanya aku mencium bau-bauan yang sangat harumnya.

Dia menundukkan kepalanya kebawah, sedang kedua kaki dan tangannya dibelenggu. Setelah ia melihatku, bercucuranlah air matanya seraya ia bersyair katanya :

Aku berlindung dengan engkau

Janganlah engkau belenggu

Tangan kaki tak berdosa itu

Engkau belenggu sampai leherku

Padahal ia tak mencuri tak menghianat.

 

Di sekitar dadaku terasalah olehku panas api yang membakar hatiku namun …

walaupun itu kau jadikan sepotong-sepotong demi hakmu tak kan kumundur sedikit jua.

 

Berkata Sariyus Saqthy rahimahullah : “Mengapa wanita ini dititipkan disini? “

Penjaga : “Wanita ini gila. Oleh tuan pemiliknya dititipkan disini, agar ia sadar dan sembuh kembali”.

kedahsyatan memendam cinta dan kerinduan kepada Allah

Ketika ingin mendekati wanita itu tetapi si penjaga menghalangi ku, seraya berkata Jangalah tuan coba-coba mendekatinya karena penyakit wanita ini amatlah kuatnya. Mendengar kata-kata penjaga yang demikian itu, semakin deraslah air mata wanita itu mengalir, seraya bersyair:

Wahai manusia bukanlah aku gila

Namun aku mabuk dengan hati sadar

Aku mabuk karena mencintai kekasih

Nan tak kuasa aku menjauhinya.

 

Kebaikan yang kupandang sebagai kebinasaan

Itulah dia kebaikanku

Tak kan berdosa orang mencintai

Tuan dari segala yang dipertuan.

 

Setelah kudengar syair wanita itu sesak rasa dadaku sehingga aku menangis. Demi ia melihat aku menangis, berkatalah ia kepadaku: “Tangisan itu hanya disebabkan mengingat sifatnya semata, betapa kalau sekiranya engkau kelak dapat mengenalnya?” Kemudian ia menangis lagi seraya bersyair :

Engkau pakaikan aku pakaian rindu alangkah sedapnya pakaian itu

Engkau adalah Tuhan dari sekalian manusia dan Tuhan yang haq pada mulanya

Hatiku penuh aneka warna cita-cita namun, setelah melihat Mu dengan nyata bersatulah cinta dan cintaku padanya seorang

 

Orang yang kubenci kini menjelma menjadi orang pendengkiku,

Namun aku menjadi yang dipertuan setelah engkau menjadi tuanku.

Kutinggalkan manusia dunia dan agama mereka karena masygul oleh cintamu

Wahai dunia dan agamaku, kerinduan dalam hati dan jiwaku

Kesemuanya adalah dari padaku sedang cinta dan kekasihku telah menguasai seluruh diriku.

 

Kemudian itu bertanyalah aku kepada wanita itu : “Hai wanita”.

“Labbaik hai Sariy”, Jawabnya.

Aku termangu keheranan karena ia mengenal akan diriku (namaku). Lalu aku bertanya: “Darimana engkau mengenal aku, padahal tiada pernah akumelihatmu?”

Wanita itu menjawab , “Tuhan yang mengetahui segala yang gaib, itulah yang telah mengenalkan aku dengan engkau.

“Sebab apakah engkau dipenjarakan disini, padahal demikian tinggi ma’rifat dan keikhlasanmu dalam mencintai Dia?”, tanyaku.

Jawabnya : “Mereka mengira aku gila, padahal merekalah yang lebih layak disebut gila. Kemudian ia menangis tersedu-sedu

“Siapa namamu? tanyaku. “Tuhfah” Jawabnya.

Kemudian aku meminta kepada penjaga untuk melepas belenggu dari tangan dan kakinya. Kemudian penjaga pun melepaskannya. Ketika tengah bercakap-cakap datanglah tuan pemilih jariyah tersebut. Setelah ia melihat kami, ia memberi salam penuh hormat, lalu aku berkata kepadanya.

“Wanita itu lebih berhak mendapat kehormatan. Mengapa tuan berbuat begini dan apakah yang tiada menyenangkan tuan dari keadaan wanita ini?

Ia menjawab,  “ia selalu menangis tiada putus putusnya siang malam, tiada mau tidur sama sekali dan kamipun tak dapat tidur pula karenanya. Demi Allah wanita ini adalah barang daganganku, yang kubeli dengan harga lima ratus dinar”.

“Apa pekerjaannya ? tanyaku.

“Dia ahli gambus” jawabnya.

“Bagaimana asal mulanya menjadi begini?”

“Ketika ia menyanyi sambil memetik gambus dengan syairnya :

 

Penuh jiwa ragaku oleh kerinduan betapa kan kudapat berkata

Bercakap dan berjalan demi hakmu, janji itu tak kan dilenyapkan zaman

wahai orang yang tiada Tuhan melainkan Dia relakah engkau kiranya melihatku sebagai seorang hamba bagi sesama manusia.

Tiba-tiba gambus itu dilemparkannya sehingga menjadi pecah dan hancur. Demikianlah asal mulanya ia menjadi gila, sebagaimana tuan saksikan sekarang ini,” jelasnya.

Mendengar cerita tuannya yang demikian itu, Tuhfah bersyair lagi:

 

Bercakaplah Alhaq dengan daku dalam hati

Menjadilah ia penganjurku dalam hati

Ia mendekatkan daku setelah menjauhkan, dan menjadikan daku pilihanNya

Kuperkenankan panggilan memanggilku Kusambut dengan taat dengan patuh.

 

Berkatalah Sariy as Saqathy. “Lepaskanlah dia itu dan besok akan saya beri kepada tuan lima ratus dinar insya Allah, sebagai ganti harganya.”

Biarlah ia tetap tinggal disini dahulu, sehingga uang itu saya terima dari tuan jawabnya. Setelah itu aku pulang kembali kerumah dengan hati pilu. Setelah di pertengahan malam itu datanglah seorang mengetuk pintu rumahku.

Tiba-tiba kudapatkan lima orang laki-laki maka segera kutanyakan pada mereka apakah maksud kedatangan saudara-saudara sekalian kemari ditengah malam ini? Salah seorang diantara mereka menjawab kawan-kawan berkunjung kemari dengan izin Allah. Semoga sudilah tuan memberi izin kepada kami, masuk kedalam rumah tuan.

Setelah mereka masuk terlihat olehku, masing-masing ada membawa kantong yang berisikan dinar. Salah seorang diantara mereka memperkenalkan diri bernama Ahmad Ibnul Muthanna. Ketika saya sedang tidur, terdengarlah olehku suara gaib, katanya: “Hai Ibnul Muthanna, maukah engkau berbuat sesuatu kebaikan untuk Allah?” Alangkah gembira hati saya, bila Allah mengizinkan saya untuk itu, jawabku Bawalah lima ratus dinar kepada Sariyus Saqthy untuk menebus Thuhfah, karena dia telah kupilih sebagai waliku yang mendapat inayah pertolonganku. Dan ketahuilah bahwa tuan pemilik Thuhfah itu, akan dimudahkan Allah rezkinya dengan tak usah bersusah payah lagi.

“Maka setelah saya bangun segeralah saya datang kemari untuk memenuhi apa yang telah diperintahkan kepada saya. Ini dia uang itu, ada saya bawa kepada tuan,” jelasnya.

Damikianlah setelah fajar menyingsing segera aku tegak bersembahyang subuh, kemudian aku keluar menuju rumah sakit itu, kulihat si penjaga sudah tegak berdiri setelah melihat aku datang, bertanyalah ia kepadaku,

“Tuan datang kemari untuk urusan Tuhfah bukan?” “ Ya,” jawabku dan seterusnya lalu kuceritakan kepadanya apa yang telah terjadi antara aku dengan Ibnul Muthanna semalam dan segera aku masuk kerumah sakit, bersama dengan penjaga itu.

Demi setelah Thuhfah melihat aku datang, menangislah ia dengan air mata yang bercucuran seraya bersyair :

Telah cukup kusabarkan diriku karena menciantai Mu

Tapi kini kesabaran itupun rupanya telah dekat masanya meninggalkan daku

Tak akan sembunyi bagimu segala urusanku ini

Wahai harapan Dan tempat kupohon

 

Kuharapkan Engkau melepaskan beban kebudakan dan

jadikanlah aku manusia Merdeka yang terlepas dari tawanan.

 

Ketika kami sedang duduk datanglah tuan pemilik wanita jariyah itu dengan muka cemas serta bercucuran air matanya. Lalu aku berkata kepadanya: “ Tak usah tuan menangis, Allah telah memberi kelapangan, uang pun telah siap sedia, seperti yang tuan harapkan bahkan kalau perlu boleh tuan meminta tambahnya. walaupun sampai lima ribu dinar.”

Gila karena cinta Mu dan merendam kerinduan kepada Mu

“Demi Allah, tidak akan saya terima uang tebusan itu, walaupun dengan emas dan perak sepenuh bumi.”  Jawabnya.

“Bukankah tuan telah berjanji dengan saya kemarin itu? Bukanlah begitu ya tuan, tanyaku

“Tuan tiada tahu apa yang terjadi dari beberapa macam cercaan atas diriku dan suara katuf (gaib) yang telah saya dengar semalam. Ketahuilah bahwa wanita ini telah kumerdekanan karena Allah Taala. Bahkan segala milik dan kekayaanku telah kusedekahkan semuanya untuk Allah Taala,” jawabnya.

Aku menoleh kebelakang tahu-tahu Ibnul Muthanna sedang menagis dibelakangku dengan sekuat-kuatnya, lalu aku bertanya kepadanya Apakah yang tuan tangiskan itu? Jawabnya, “Kalau begini kejadiannya itulah suatu tanda bahwa Allah tiada ridha kepadaku.”

“Bukanlah begitu kataku pahala telah dicatat karena niat tuan yang baik itu, sedang niat itu adalah lebih baik dari pada amalnya,” terangku.

Kemudian berkatalah Ibnul Muthanna “Hai Sariyus Saqthy, uang itu telah saya keluarkan untuk Allah Azza wa Jalla, maka tak boleh dikembalikan lagi. Jadi uang itu dan sisa uang saya yang ada, kesemuanya itu telah saya sedekahkan, begitu juga segala budak sahaya yang ada pada saya, telah saya merdekakan semuanya karena Allah Taala.”

Kini saya kembali kepada Allah dan bertaubat dari dosa saya. Tiba-tiba Tuhfah tegak berdiri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terbuat dari bulu serta pergilah ia bersama-sama kami, seraya bersyair katanya :

Wahai kesenangan hati, Engkaulah pujaan hati dan kesenangan ku,

Engkau adalah harapan dan tujuanku Cahaya dari segala cahaya

 

“Beberapa banyak kulihat pencinta bersabar diri karena cinta dan berapa lama cinta berdiam bersinggasana dalam dada.”

Kemudian itu ia menjerit dan mengeluh katanya : Wahai alangkah lamanya kesedihan ini. Setelah itu, berpisahlah kami dan Thuhfah pergi seraya syairnya :

Aku menangis karena Nya dan aku lari daripada Nya kepada Nya

Demi hak Nya harapan itu tak’kan kutinggalkan selamanya

Hingga tercapai olehku cita-cita yang kupinta daripada Nya.

Sejak itulah ia meninggalkan kami. Pada suatu tahun pergilah aku beserta tuannya (pemilik Thuhfah) menunaikan ibadah haji ke Mekkah, ketika kami sedang mengerjakan tawaf dengan beberapa jamaah, terdengarlah olehku suara duka dari seorang wanita yang memanggilku dengan suara yang sangat nyaring. Setelah wanita itu melihat kami, ia bersyair :

Bercinta Allah di alam dunia, senantiasa menderita dan ber sakit-sakit

Ia tak putus-putus dengan penyakit yang dari itu juga sakit sembuhnya

Ia rindu karena cintanya nan tak mengharapkan kasih lainnya

Demikianlah tiap pencinta mengeluh merintih hingga berjumpa.

Kemudian ia jatuh pingsan. Setelah siuman ia bersyair lagi katanya :

Aku kan mati, namun cintaku tetap tak kan berobah

Jiwakupun tak kan merasa puas selamanya oleh rasa cinta kepada Mu.

Wahai harapan dari segala harapan hanya engkaulah harapanku

Tempat kerinduan dan rahasiaku, bukanlah engkau penunjuk jalan

Bagi yang sesat dalam perjalanan penolong bagi mereka yang jatuh ke jurang.

 

Kuketahui ia Thuhfah. Aku bertanya kepadanya, “Apakah pemberian Allah kepadamu, setelah engkau putuskan hubunganmu dengan makhluk?”

“Dia menjadikan aku didekatnya dan menghindarkan aku dari gangguan makhluk Nya,”  jawabnya

“Thuhfah, Achmad Ibnul Muthanna telah meninggal,”memberikan berita.

“Semoga Allah mengasihani dan mengampuninya. kuharapkan dari pada Allah segala kebaikan dan kenikmatan untuknya dan semoga Allah membalasnya dari uang yang ia nafkahkan dijalan Allah itu dengan tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih daripada itu.” Doanya.

“Wahai Tuhan dan penghuluku, aku mohon kepadaMu dengan cahaya wajahMu yang telah menerangi segala kegelapan dan menjadi baik karenanya segala urusan dunia dan akherat,agar supaya engkau mencabut rohku kembali kepadaMu. Sampai bilakah aku mesti tinggal di dunia dengan penuh derita ini? Ilahi cukup lama aku merindui Mu, maka segerakanlah oleh Mu rohku Engkau panggil kembali, Wahai Tuhan yang lebih kasih dari segala pengasih, Tuhan yang memperkenankan doa orang yang sedang dalam kesempitan,”penuh lirih kerinduan.

Kemudian itu ia menghadap kiblat dan membca dua kalimat syahadat lalu meninggallah ia menemui Tuhannya. Maha suci Allah yang hidup yang tiada mati.

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda