AgamaSKETSA

Penawar Pedihnya Ujian Bencana

Bencana silih berganti menghampiri bumi Khatulistiwa, pedihnya cobaan merobek setiap relung hati manusia. Bagi mereka yang mengalami atau kehilangan sanak saudara tentunya menciptakan nestapa yang menggoyahkan suasana bathin.

Perjalanan 2019 ini memang cukup kelabu bagi bangsa ini, entah ada hubungannya dengan perilaku manusia itu sendiri, atau lepas sepenuhnya kehendak Allah – Zat yang maha berkehendak. Namun sebagai manusia tentunya hanya dapat mengambil ilmu atau tanda-tanda yang diberikan alam kepada akal manusia.

Kisah tragis disepanjang tahun ini berantai dalam waktu terpaut sangat dekat. Berbagai bencana alam dan peristiwa seharusnya menenggelamkan diri ini dari ketidak berdayaan sebagai manusia, dan mengubah takbir dengan nada yang lembut mengakui kebesarannya.

Para penggelut kebencanaan pun kembali tertunduk terkait bencana alam tersebut. Intlektual mereka hanya bisa memperkirakan penyebab dari geliat setelah musibah tersebut terjadi. Berkali-kali kepakaran mereka menciut sehingga harus menguras akal pengetahuannya guna menyelami geliat alam tersebut.

Bagi penonton, fenomena tersebut kini menjadi perdebatan di dunia maya, antara azab yang diberikan Allah sebagai hukuman terhadap ulah manusia yang jauh dari ajaran agama, atau cobaan bagi manusia untuk menguji keimanannya kepada Allah.

Tak ada yang pasti jawabannya, namun yang pasti peristiwa tersebut menciptakan lelehan air mata dan kepiluan dari mereka yang selamat dari bencana tersebut atau mereka yang kehilangan sanak saudara, keluarga, tetangga, teman, wisatawan maupun penduduk setempat.

 Apa Penawar Kepedihan Tersebut?

Umumnya manusia akan merasakan suatu kenikmatan yang diberikan Allah tak kala kesusahan menimpanya. Nikmatnya suatu pandangan akan diketahui manakala seseorang diuji dengan kebutaan. Begitu juga nikmatnya suatu air tidak akan diketahui kalau tidak kehausan seperti di gurun pasir, tetapi bagi mereka yang tinggal di tengah telaga tidak bisa merasakan nikmat tersebut.

Lantas seperti apakah hubungan nikmat dengan bencana tersebut. Kedepannya tentu setiap orang yang mengalami nestapa tersebut menemukan maksud Tuhan kepada hambanya. Jika mereka yang beriman, mereka akan mengalami perasaan kenikmatan dari hal-hal kecil yang dulunya  tak pernah dirasakan.

Dalam nasehatnya Ibnu Athaíllah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam menjelaskan penawar dari pendihnya cobaan dengan merenungi kata-katanya :

“Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui  bahwa Allahlah yang memberi ujiann. Zat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah zat yang selalu memberimu pilihan terbaik”.

Lantas bagaimana maksud nasehat tersebut?  Disini sang manusia bijak tersebut mengungkap jika kepahitan hidup atau ujian yang ditimpakan kepadamu berasal dari Allah, bukan yang lain. Allah yang lebih mengetahui maslahat dirimu dibandingkan dirimu sendiri.

Menyadari maksud Tuhan kepada kita akan menciptakan kesadaran akan rasa bahagia, kesenangan, hiburan, bisa juga menjadi ketawakalan dan kesabaran bagi diri kita sebagai manusia. Munculnya penyakit, hilangnya harta,keluarga, merupakan kehendak Allah yang telah memilihkan yang terbaik yang sesuai dengan diri kita.

Begitu juga dengan seorang hamba, jika ia mengetahui Allah Maha Pemurah, Maha Lembut, Maha Melihat kepadanya, tentunya setiap ujian berupa musibah dan bencana yang dijatuhkan kepadanya tidak terlalu dipedulika, karena Allah tidak menghendaki dari hambanya kecuali kebaikan.

Bencana longsor di bantul |solopos

Melalui aliran kesadaran tersebut, akan menjadikan hambanya tidak berprasangka buruk kepada Tuhannya. Dan hal tersebut menjadi pilihan-Nya untuk hambanya. Disinilah manusia harus yakin dalam ujian tersebut terkandung kemaslahatan atau kebaikan yang tersamar bagi dirinya, dan hanya Tuhan yang mengetahui-Nya.

Ketika mengupas penawar dari kepedihan dari cobaan maka mutiara-mutiara yang dikumpulkan Ibnu Athaíllah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam,beliau juga memberikan nasihat salah satu tanda lemahnya iaman adalah tidak melihat melihat lembutnya takdir.

“Siapa yang mengira kemahalembutan-Nya terlepas dari kemahakuasaan-Nya berarti ia memiliki pandangan yang sempit”.

Maksud dari perkataan tersebut Kemahakuasaan Allah terlihat ketika Tuhan memberikan bencana dalam ujian kepada hambanya. Jika kita menganggap bahwa kelembutan Allah terpisah dari kekerasan-Nya maka hal itu menandakan pandangan kita sempit.

Ketika pandangan kita mengarah yang lebih luas, tentunya kita akan menyadari bahwa ujian tersebut banyak mendapatkan kelembutan Allah. Misalnya, setelah peristiwa tsunami tersebut maka orang-orang yang selamat atau penduduk disekitar bencana menjadi lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ujian yang dijatuhkan Allah kepada hambanya tentunya bertolak belakang dengan keinginan dan membuat nafsu meronta. Tentunya hal yang mengganggu nafsu akan berbuah baik, bahkan sebelum orang tersebut kembali kepada Allah dan mengetuk pintu-Nya.

Lantas apakah hikmah didalam ujian bencana tersebut? Mereka yang selamat atau mengalami luka-luka permanen akan mendapatkan dirinya bahwa jiwanya lemah, kekuatannya terbatas, dan sifat-sifat yang mendorongnya berbuat dosa atau maksiat akan selalu terbentur dengan kasih sayang Allah yang telah memperlihatkan kelembutannya.

Mereka pun akan mengalami revolusi perjalanan bathin,  ketika jiwanya tertolong melalui tangan Allah, maka kematangan bathiniah akan terpancar selepas peristiwa tragis tersebut. Sifat menundukan hati, sabar, ridho, tawakal akan selalu membayanginya. Karena sebiji sawi amalan hatinya lebih baik dari segunung amalan anggota tubuh.

Bahkan kasih sayang Allah yang telah menguji hambanya akan menghapuskan dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini,  serta meraih kelembutan Ilahi yang terpancar dengan mengasihi dan peduli kepada mahluk sesama ciptaan Tuhan.

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda