OPINI

Unicorn bisa bawa dana lari ke luar negeri?

Ada yang menarik dalam Debat Capres Kedua. Calon Presiden 01 Joko Widodo bertanya infrastruktur apa yang akan dibangun Prabowo untuk mendukung unicorn yang ada di Indonesia. Namun sebelum menjawab, Prabowo seakan tidak mengerti dan bertanya balik soal apa itu unicorn.

“Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk mendukung perkembangan unicorn Indonesia?” kata Jokowi.
“Yang Bapak maksud unicorn? Maksudnya yang online-online itu, iya, kan?” kata Prabowo bertanya balik. Jokowi tampak tak mendengar jelas pertanyaan balik Prabowo sehingga tak merespons dengan jawaban jelas.

Prabowo lantas memaparkan komitmennya untuk perkembangan unicorn di Indonesia. Jika terpilih, Prabowo akan memangkas sejumlah regulasi yang, menurutnya, bisa memperlancar perkembangan startup unicorn di Indonesia.

“Kita kurangi regulasi, kurangi pembatasan karena mereka lagi giat-giatnya dan pesat-pesatnya berkembang. Saya akan dukung sebagai upaya memperlancar. Mereka juga mengalami kesulitan dalam arti merasa ada tambahan-tambahan regulasi. Mereka mau dipajaki rupanya dalam jaringan online. Ini yang mereka juga mengeluh,” kata Prabowo.

Lalu sebenarnya apa sih unicorn yang dimaksud Jokowi?

Popcorn atau Unicorn?

Tentu saja yang dimaksud bukan sejenis makanan ringan Popcorn, atau makhluk mitologi yang digambarkan sebagai kuda bertanduk dan diragukan keberadaannya.

Unicorn sendiri adalah status yang disandang sebuah perusahaan rintisan atau startup jika valuasinya sudah mencapai US$ 1 miliar.

Sebelum mencapai unicorn ada beberapa tahapan pendanaan dari sisi valuasinya. Startup series A adalah perusahaan rintisan yang memiliki valuasi US$ 600 ribu hingga US$ 3 juta.

Series B merupakan tahapan lanjutan dengan valuasi pendanaan US$ 5 juta hingga US$ 20 juta dan series C sebesar US$ 25 juta hingga US$ 100 juta. Di Indonesia ada 4 startup yang sudah menyandang predikat unicorn, yakni Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka.

Terlepas dari itu, unicorn yang disebut-sebut asli Indonesia ini ternyata memang ‘dikuasai’ pemodal asing.
Meski memiliki valuasi besar, unicorn adalah startup yang sebenarnya masih merugi. Mereka masih aktif melakukan aksi promosi dan marketing berbiaya tinggi, atau istilahnya bakar uang, untuk menjadi pemain utama di pasar dan bahkan melumpuhkan saingannya. Untuk mendanai ini, para unicorn membutuhkan suntikan dana dari investor.


Valuasi startup sendiri adalah nilai ekonomi dari bisnis yang dilakukan sebuah startup.

  • Unicorn = Startup yang memiliki valuasi nilai US$ 1 miliar
  • Decacorn = Startup yang memiliki valuasi nilai US$ 10 miliar
  • Hectocorn = Startup yang memiliki valuasi nilai US$ 100 miliar

Tags

Arief Hidayat

Professional Computer Programmer and IT Trainner
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda