OPINI

Tanpa Ketegasan, Asia Tenggara Tujuan Limbah Plastik Dunia

Ketegesan menjadi kunci utama jika Indonesia tidak mau menjadi tempat pembuangan limbah plastik dunia. Pasalnya selama ini limbah plastik negara-negara maju di impor China untuk dijadikan plastik daur ulang. Tapi kini setelah merasakan dampak buruknya mereka pun menyetop limbah tersebut.

Sampah plastik kini telah menjadi permasalahan global. Bukan hanya di Indonesia, volume sampah plastik dan kertas di negara berkembang telah membuat mereka pusing. Sehingga mereka mencari negara-negara yang mau mengelola limbah plastiknya. Mirisnya Indonesia sendiri masih sibuk mengedukasi masyarakatnya untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Sejak pemerintah China menyadari dampak buruk pengolahan limbah plastik buat kesehatan dan tingkat polusi maka mereka pun mengurangi impor limbah plastik sejak tahun 2017 lalu. Akibatnya beberapa negara maju seperti Eropa, Kanada, AS, Jepang, dan Korea Selatan mencari negara baru yang mau menampung limbah plastik mereka.

Keputusan China tersebut membuat kager industri daur ilang dunia. Menurut Arnaud Brunet dari Biro Daur Ulang Internasional (BIR) di Brussels, Belgia mengakui selama ini China mengimpor 56 persen limbah plastik dan kertas.

Setalah mempertimbangkan dampak kesehatan bagi warganya akhirnya China mengumumkan menyetop kran impor limbah plastik. Imbasnya hanya dalam beberapa bulan, tercatat impor limbah plastik Malaysia naik tiga kali lipat.

Artinya kini negeri Jiran tersebut menjadi tempat pembuangan limbah plastik dunia. Sedangkan India, Thailand, Vietnam dan Indonesia kini menjadi bidikan sebagai negara tujuan ekspor limbah plastik baru. Bahkan beberapa saat lalu, Presiden Duterte berbicara keras kepada Kanada akan mengembalikan limbah tersebut di pantai negara mereka indah.

Krisis global limbah plastik dan kertas ini bisa terjadi karena semua negara mengetahui betapa longgarnya aturan impor limbah plastik dan program pengolahan limbah yang dijalankan setengah hati. Hal tersebut tertuang dalam laporan Bank Dunia 2018 lalu, dimana lebih 90 persen limbah negara berkembang dan miskin dibuang secara illegal atau dibakar sehingga berdampak pada lingkungan dan kesehatan.

Tapi ini Thailand, Malaysia dan Indonesia mulai memberlakukan aturan impor limbah lebih ketat guna menangkal serbuan sampah plastik yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Indonesia pun kini berpegang pada UU No.18 tahun 2008 tentang Pengolahan Sampah dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 31 tahun 2016 tentang Tata Cara Importasi Limbah Non B3.

Limbah plasti asal Australia yang mencemari sungai Brantas |Pantau

Meski telah berpegang oleh dua peraturan, namun pemerintah tetap mengakui bahwa menangkal serbuan limbah dari luar negeri merupakan tantangan yang tak mudah ditangani. Hal ini disebabkannya banyaknya impotur illegal.

Bahkan pemerintah cukup kewalahan mengatasi penyeludup sampah seperti diungkapkan oleh Heng Kiah Chun dari Green Peace Asia. Bahkan April lalu lembaga lingkungan Australia Ecologi Observation and Wetloand Conservation (Ecoton) melaporkan praktik penyelundupan sampah plastik asal Australia ke Indonesia

Limbah itu dimasukkan ke dalam kontainer berisi kertas bekas yang diimpor untuk kebutuhan industri. Bahkan mereka juga mengatakan sekitar 52 ribu ton atau sekitar 30 persen diantaranya berupa sampah plastik. Sampah tersebut kemudian dibuang secara illegal sehingga mencemari kawasan kali Brantas, Jawa Timur.

Tapi bukannya China berhenti dari industri limbah plastik, tapi kini China membidik komoditas plastik yang telah di daur ulang. Bahkan banyak perusahaan China yang membangun pabrik daur ulang plastik di Asia Tenggara.

Akibatnya kini banyak pabrik daur ulang limbah plastik tumbuh bagai jamur di Malaysia, yang dijalankan investor dari China. Sehingga dulu asap polusi yang menghiasi negara China kini mulai berpindah ke sejumlah kawasan Asia Tenggara.

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda