OPINI

Sampah Gunung, Mungkinkah Mayoritas Pendaki Bukanlah Pencinta Alam?

Sampah merupakan permasalahan manusia di belahan dunia manapun, bukan saja permasalahan di kota besar sampah juga telah sampai di atas gunung. Apakah hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas pendaki bukanlah pencinta alam?

Satu dekade belakangan ini kegiatan pendakian terus meningkat, namun sayangnya hal tersebut juga diikuti dengan meningkatnya timbunan sampah yang berserakan di atas gunung bahkan puncak gunung yang ada di Indonesia maupun di luar negeri.

Komunitas-komunitas yang menggunakan embel-embel pencinta alam pun sepertinya hanya sebuah tulisan atau identitas belaka. Bahkan tak sedikit dari mereka juga meninggalkan jejak sampah ketika ngecamp di sebuah pos.

Hal ini tentunya tidaklah harus menjadi perdebatan antara para pendaki atau pencinta alam, tetapi tentu menjadi pekerjaan rumah bagi mereka yang memiliki hobi mendaki gunung untuk membudayakan membawa turun sampah yang dihasilkan.

Beberapa data menggambarkan volume sampah diatas gunung sangat memprihatinkan, bukan saja ratusan kilo yang dihasilkan bahkan angka tersebut terus meningkat. Puluhan ton sampah tentu menjadi angka yang mengkhawatirkan.

Jika sobat tengok ke Taman Nasional Semeru Bromo saja, menurut data petugas setempat menerangkan, rata-rata setiap pendaki menghasilkan 0,5 kg. Dengan jumlah pendaki antara 200 hingga 500 orang, maka setiap harinya Semeru menghasilkan sampah 250 kg per hari.

Nah jika sobat kembali memantau sampah di Taman Nasional Gunung Rinjani, keprihatinan sampah juga membuat miris. Dari data yang diperoleh tahun 2016 saja Gunung Rinjani telah didaki oleh 90 ribu orang, jumlah ini juga melebihi populasi penduduk Kecamatan Sembalun yang hanya 19 ribu jiwa.

Sayangnya meningkatnya jumlah pendaki yang naik ke atas gunung juga meninggalkan masalah sampah. Bahkan sampah dari hasil kegiatan pendakian mencapai 13 ton dan tidak terkelola dengan baik. Meski saat ini sudah ada pengelolaan sampah, tentunya harus didukung budaya membawa sampah kembali.

Permasalahan seperti ini juga bukan dialami gunung-gunung di Indonesia, bahkan gunung yang menjadi barometer pendaki dunia pun, gunung Everest memiliki permasalahan sampah yang tak kalah rumit. Bahkan mereka juga kini kewalahan terhadap limbah manusia yang ada di gunung tertinggi tersebut.

Berita terbaru, Gunung Everest telah ‘diubah’ pendaki menjadi tempat sampah tertinggi sedunia. Tiga metrik ton atau setara 3.000 kilogram sampah telah dikumpulkan dari gunung hanya dalam dua minggu pertama, menurut AFP. Tugas mulia ini sedang dilakukan oleh tim beranggotakan 14 orang.

Everest jadi tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia |trubus

Mereka telah menetapkan tugas dengan target menurunkan 10 metrik ton dalam 45 hari. Limbah yang diturunkan dalam Kampanye Pembersihan Everest (Everest Cleaning Campaign) yakni kaleng kosong, botol, plastik, dan peralatan pendakian yang dibuang.

Everest sebagai gunung tertinggi tentu memiliki keterbatasan dalam fasilitasnya, sehingga ribuan pendaki yang kesana harus membuang kotorannya pada tas sekali pakai dan membawanya turun ke bawah.

Sementara itu, di basecamp, pemerintah Nepal telah menggunakan toilet portable berbentuk tong atau drum berwarna biru, menurut petualang John Fogle aturan buang air besar tidak mencampur urin dengan feses dan tong biru hanya untuk limbah padat manusia.

Di basecamp, otoritas dari Nepal telah memasang toilet portabel berbentuk tong atau drum berwarna biru. Menurut Fogle, aturan buang air besar di sana tidak mencampur urin dengan feses dan tong biru hanya untuk limbah padat manusia.

Porter akan memanggul tong tersebut ke Gorak Shep sebuah danau membeku yang berada diketinggian 5.181 mdpl.  Permasalahan muncul ketika kotoran tersebut tidak terurai karena tidak adanya bakteri yang hidup dengan suhu dibawah nol derajat.

Para peneliti dari Universitas Seattle dan Kathmandu telah melakukan beberapa tes untuk melihat apakah teknologi itu berfungsi. Garry memperkirakan digester pertama akan menelan biaya pembangunan sekitar USD 500.000 atau setara Rp 7,13 miliar.

Nah, mungkinkah mayoritas pendaki itu ternyata bukan pencinta alam?

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda