OPINI

Dejavu Mei 98, Rivalitas Dua Jenderal Setelah 21 Tahun

Dejavu peristiwa mei 1998 ketika bangsa ini bergetar seakan terulang. Meski peristiwa ricuh antara pendemo 21 Mei dengan aparat keamanan TNI-Polri terbilang kecil jika dibandingkan tahun 1998, namun suasana foto yang beredar membawa ingatan kembali ke masa tersebut.

Bukan saja peristiwa bentrokan antara pendemo dengan aparat keamanan TNI-Polri, tetapi dua tokoh besar tahun 1998 dan 2019 ini muncul ke permukaan. Yups, peristiwa Mei seakan berulang setelah 21 tahun berlalu, Prabowo dan Wiranto kembali muncul.

Ketika dahulu Wiranto sebagai panglima ABRI dan Prabowo sebagai Pangkostrad menjadi buah bibir karena ada perseteruan saat suksesi kepemimpinan pada hura-hara bumi Nusantara. Kini kedua nama tersebut juga ada dalam rangkaian perjalanan waktu.

Perseteruan dua Jenderal ini seakan menjadi suratan takdir. Ketika hampir beberapa tahun Wiranto menghilang dari panggung pemerintah, namun disaat era kepemimpinan Jokowi sosok Wiranto diposisikan sebagai Menkopolhukam dan kembali harus mengatasi geliat bangsa Indonesia, terkait gejolak pemilu dimana Prabowo sebagai capresnya.

Ketika kita hendak menilik kebelakang, tak dapat disangkal bahwa kekuasaan kursi kepresidenan saat itu bisa saja diambil alih oleh militer. Artinya Wiranto selaku Panglima ABRI mampu mengambil kursi Presiden atau bisa juga terjadi kudeta yang dilakukan Prabowo seperti tertulis dalam buku BJ. Habibie; Detik-detik Yang Menentukan.

Ditanggal yang sama, 21 tahun lalu Habibie menerima Wiranto di ruang kerja presiden di Istana Merdeka. Ketika itu Panglima ABRI melaporkan pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak dan ada konsentrasi pasukan di rumah Habibie di Kuningan dan Istana Merdeka.

Laporan yang diterima membuat Habibie berkesimpulan Pangkostrad bergerak sendir tanpa sepengetahuan panglima. Pergerakan ini menimbulkan pertanyaan apakah ada skenario tersendiri terkait laporan dari Pangab?

Habibie pun memutuskan agar Pangab mengganti pangkostrad sebelum matahari tenggelam. Kepada penggantinya, pasukan dibawah komando Pangkostrad harus kembali ke kesatuan masing-masing. Nama Letjen Johny Lumintang pun muncul dan kemudian digantikan oleh Letjen Djamari Chaniago.

wiranto mencopot pangkostrad letjen prabowo \ tribunnews

Sementara itu, dalam kesaksiannya Wiranto dalam bukunya Bersaksi di Tengah Badai, ia mendapat laporan lengkap tentang Pangkostrad Letjen Prabowo pada saat-saat kritis, bahkan mendapat infotmasi pertemuannya dengan wakil presiden BJ. Habibie, Amien Rais,Gusdur, dan tokoh lainnya.

Pergerakan pasukan bagi kehidupan militer merupakan sesuatu yang mengejutkan, karena menyalahi aturan. Seharusnya Pangkostrad berorientasi pada wilayah, tugas, dan tanggung jawab yang melakukan pergerakan pasukan sesuai dengan perintah Panglima ABRI.

Tak hanya itu, ia juga mengisahkan pada malam 16 Mei 1998 pukul 22.30 dimana dirinya mendapat informasi bahwa Pangkostrad menghadap presiden untuk melapotkan Menhankam/Pangab telah berkhianat kepada presiden.

Hal ini tentu sudah keterlaluan dan ingin memanfaatkan situasi yang tengah kacau,yaitu penyingkiran. Selanjutnya pada pagi 17 Mei 1998, di jalan Cendana No.6 dihadiri Kasad Jenderal Soebagio HS dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin Wiranto memberikan teguran keras kepada Pangkostrad.

Sementara itu, setelah 21 tahun perjalanan waktu ternyata rivalitas keduanya kembali dihadirkan bagi generasi muda yang tidak mengetahui peristiwa Mei 1998. Kedua tokoh bangsa ini kembali mengambil peran masing-masing dan harus kembali berhadapan.

wiranto dan prabowo, pertarungan dua jenderal \ tribunnews

Prabowo sebagai capres yang sekaligus menjadi oposisi pemerintahan, Wiranto kembali berada pada sisi berseberangan, ia pun menjadi orang paling berpengaruh di lingkaran Istana dengan jabatan Menkopulhukam.

Adu strategi antara Wiranto dan Prabowo kembali bergesekan. Melalui narasi penolakan hasil pemilu yang menganggap terjadi kecurangan yang dilakukan KPU dan Banwaslu secara massif, sistematis, dan terstruktur sehingga mengajak pendukungnya untuk mengepung KPU dan Banwaslu

Pergerakan rencana ini pun telah tercium sejak jauh hari oleh pemerintah sehingga Polri dan TNI mengambil beberapa tindakan penangkapan kepada tokoh karena mengajak gerakan turun ke jalan sementara pintu-pintu konstitusional terbuka untuk menyelesaikan perselisihan dalam pemilu.

Tindakan tegas yang diambil pemerintah melalui POLRI dan TNI ini tentunya menjadi langkah yang harus diacungi jempol mengingat gesekan akan semakin parah ketika yang berhadapan adalah pendukung Prabowo dengan pendukung Jokowi.

Nah, jangan lupakan sejarah atau jasmerah merupakan langkah bijak yang harus dilakukan masyarakat saat ini. Jangan pernah mau dibenturkan oleh para elit politik, biarkan mereka yang turun ke jalan dipercayakan kepada  aparat demi keamanan bersama.

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda