MilenialSaya Tahu

Impor Sampah, Indonesia Harus Belajar Pada Duterte

Impor sampah merupakan permasalahan yang tengah dihadapi negara-negara Asia Tenggara. Selain Malaysia dan Filipina, Indonesia juga mengalami hal serupa, tak sedikit sampah plastik kiriman dari negara maju masuk ke negeri ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, sepertinya pemerintah Indonesia harus bertindak tegas dan mengambil sikap seperti presiden Filipina. Terkait sampah kiriman Duterte berani teriak lantang akan mengirim balik sampah Kanada di bibir pantai negara tersebut.

Tak hanya omongan keras yang dilakukan presiden Duterte, langkah nyata pun diambil dengan menarik pulang Pejabat Perwakilan Filipina yang ada di Kanada, hasilnya kini pemerintah Kanada berjanji akan mengambil kembali sampah-sampah yang telah dikirimkan.

Tak hanya itu, permasalahan sampah pun ia bawa ke ranah Perserikatan Bangsa-Bangsa atau  PBB yang memantau persoalan tersebut melalui Konvensi Basel pada 10 Mei 2018 silam. Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa negara produsen sampah plastik harus mendapatkan persetujuan, sebelum mereka mengekspor sampah ke negara-negara berkembang.

Jika beberapa tahun lalu China menjadi tujuan ekspor sampah plastik untuk di daur ulang di negara tersebut, kini China mulai menyetop impor sampah karena memahami bencana polusi yang menimpa negaranya, sehingga sekarang mereka hanya mengimpor plastik daur ulang dari negara yang mengolahnya.

Akibat kebijakan China inilah, maka Asia Tenggara menjadi negara tujuan tempat pembuangan sampah plastik. Salah satunya adalah Malaysia salah satu negara terbesar yang menerima sampah kiriman plastik tiap tahunnya, dan kini mulai merasakan dampak buruknya.

Terkait hal tersebut kini Kementerian Sumber Daya Energi, Teknologi Science, Perubahan Iklim dan Lingkungan Malaysia, Yeo Bee Yin mengambil langkah tegas, dengan mengembalikan kembali sampah kiriman tersebut ke negara asalnya.

Ia pun beranggapan kiriman sampah plastik yang masuk ke negaranya merupakan sebuah pelanggaran dan Konvensi Basel. Bahkan ia mengaku telah mengembalikan lima container berisi sampah plastik kembali ke negara asalnya, Spanyol.

Seperti diketahui, saat ini Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Australia menjadi eksportir sampah plastik terbesar ke Malaysia. Sedangkan pihak Amerika Serikat tidak meratifikasi Konvesi Basel sehingga negara tersebut tak berhak untuk mengekspor sampah plastik ke negara yang meratifikasi konvensi.

Pabrik daur ulang limbah plastik di Jenjarom, Kuala Langat, Malaysia di tutup |Tempo

Amandemen Konvensi Basel merupakan sebuah langkah untuk menyelesaikan masalah global dari industri daur ulang global, yang menjadikan negara berkembang sebagai negara tujuan pengolah sampah plastik negara maju.

Melihat apa yang telah dilakukan oleh Malaysia dan Filipina sudah waktunya Indonesia mulai bersikap tegas dengan menghentikan sampah-sampah plastik negara maju masuk ke Indonesia, sebelum merasakan dampak polusi seperti China dan Malaysia.

Meski secara peraturan pemerintah telah mengaturnya tapi tidak sedikit sampah selundupan dari negara maju masuk ke Indonesia. masih banyak pengusaha impor yang nakal dengan sengaja menyelundupkan limbah berbahaya tersebut demi keuntungan.

https://ngopikita.com/opini/tanpa-ketegasan-asia-tenggara-tujuan-limbah-plastik-dunia

https://ngopikita.com/opini/sampah-gunung-mungkinkah-mayoritas-pendaki-bukanlah-pencinta-alam

Tags

Wahyu

penikmat aroma kopi yang sudah tidak ngopi
Close

AdBlock Terdeteksi

Dukung kami untuk terus menulis dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda